EntertainmentPoliticsTOP STORIESTOP VIDEOSUncategorized

Perbedaan Cara Pandang Ganjar dan Prabowo!!

Perbedaan Cara Pandang Ganjar dan Prabowo!!

“Terkait persiapan debat, kami percaya bahwa Pak Ganjar yang lahir dari proses kaderisasi, dua periode menjadi anggota DPR RI serta dua periode menjadi gubernur telah menyiapkan materi-materi terkait geopolitik, keamanan, pertahanan dan hubungan luar negeri dengan sebaik-baiknya,” kata Hasto dalam keterangan tertulis, Minggu (7/1/2024).

Dia menyebut, Ganjar dalam pengadaan alutsista lebih mengedepankan kemampuan anak-anak bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan, riset dan inovasi dalam mengembangkan konsepsi pertahanan negara.

Sementara, lanjut Hasto, Prabowo memilih untuk menambah pinjaman luar negeri sebesar Rp386 triliun untuk pembelian alutsista. Padahal, di satu sisi rakyat tengah menghadapi kenaikan harga bahan kebutuhan pokok.

“Dan ini kalau Pak Ganjar alutsista berdikari dari anak-anak bangsa. Kalau Pak Prabowo membeli dengan utang luar negeri. Itu yang membedakan,” kata Hasto.

Lebih lanjut, Hasto menyebut bahwa Ganjar akan terus mendorong menggunakan alutsista yang mutakhir. Hal ini pun menujukan rasa cintanya terhadap seluruh prajurit TNI.

“Pak Prabowo dengan membeli alutsista bekas,” ucap Hasto. Perbedaan Cara Pandang Ganjar dan Prabowo!!

BACA JUGA INFO PENTING :  WHATSAPP RESMI PUSATCUAN

TPN Ganjar-Mahfud Singgung Pembelian Alutsista Bekas dan Hibah Negara Lain

Juru Bicara Tim Pemenangan Nasional Ganjar Pranowo-Mahfud Md, Patria Gintings, mengkritisi mahalnya biaya pengadaan alat utama sistem persenjataan Tentara Nasional Indonesia (alutsista TNI). Patria menilai pembelian alutsisa bekas atau hibah dari negara lain menjadi pro dan kontra di publik.

“Dua pertanyaan yang muncul selalu berkisar pada seberapa besar bebannya pada anggaran belanja negara, serta sejauh mana kelayakan pemakaiannya,” kata Patria dalam keterangan resmi, Minggu (7/1/2024).

“Hari ini kita melihat industri alutsista di dalam negeri terus menggeliat. Indonesia mulai mampu memproduksi alutsista secara mandiri, sehingga seharusnya mengurangi ketergantungan terhadap alutsista impor,” tegasnya.

“Pertannyaan pentingnya sekarang bukan mau sekuat apa militer Indonesia. Tetapi mau sekuat apa industri alutsista dalam negeri Indonesia nantinya?” ujar Patria.

Patria menekankan, militer yang kuat bukanlah yang memiliki ketergantungan pada alutsista impor. “Melainkan yang industri alutsista dalam negerinya mampu menjadi tulang punggung militernya sendiri,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *